Pengalaman ku bersama JNE

Pengalaman ku bersama JNE

Hmm, era globalisasi memang sudah sangat merubah pola hidupku pribadi apalagi ditambah dengan adanya internet yang memungkinkan untuk melakukan apapun, entah itu searching, blogging bahkan iseng mencari hal baru. Nah, dari sinilah awal mulai aku kenal JNE.

Well, sebenarnya aku dulu sering sekali mendapat paket yang dikirimkan ke rumah namun namanya anak cuek aku malah tidak mau tahu dan tidak pernah mau mencari tahu apa dan kenapa paket itu bisa sampai. Haha, sampai aku akhirnya ngekos hidup di Bandung—sangat jauh dari kampung halamanku di Padang, Sumatera Barat.

Yah, namanya juga cewek dan karena aku masih kuliah aku sangat ingin berpenampilan modis saat ke kampus namun tugas kuliah membuat aku malas untuk keluar setelah balik dari kampus. Menyebalkan, aku sampai dibuat kesal karenanya. Nah, untungnya banyak online shop yang ada membuat aku senang bukan main. Aku mulai sibuk searching sana-sini, pilih mana yang disuka dan macam-macam. Setalah isi form, aku diharuskan memilih salah satu jasa dari pengiriman yang ada. Loh? Aku bingung, jujur saja aku tidak tahu sama sekali mengenai jasa pengiriman yang ada selama ini kecuali pengiriman surat—mulailah aku bingung. Aku tanya deh sama sista yang punya toko online tersebut, dan dia menyarankan JNE kawan-kawan semuanya!

Katanya gini nih, “Sista pake JNE aja kalau mau cepet, lagian ada paket satu harinya loh sist, dan disbanding yang lain harganya juga lebih murah…”

Karena aku mahasiswa hemat tingkat tinggi aku memilih JNE.

😄

Nah, benar saja! Sehari setelahnya, barangku sampai. Satu hari loh dari Jakarta ke Jatinangor—Jawa Barat. Sangat cepat! Hehe, akhirnya aku kembali belanja online untuk kedua kalinya, kali ini dengan toko berbeda dan aku tidak diminta untuk memilih jasa pengirman. Nah, ini agak lain kayaknya, barang dari Bandung namun sampai 2 hari di tempatku. Aku mulai bingung o.O, kenapa lama sekali padahal Bandung kan cuma 1,5 jam dari tempatku? Dan sialnya lagi kurirnya mengantarkan paket jam sembilan malam! Aku bahkan sampai dibuat merinding karena takut saat membuka pintu kosan semalam itu, perempuan lagi.

Karena aku rada-rada kepo, aku mulai deh lihat bukti pengiriman yang paket pertama dengan yang kedua. Loh! Beda, ternyata yang kedua ini tidak menggunakan JNE! Pantesan, dalam pikirku. Tak habis sampai di situ aku pun searching di Google tentang pengalaman mereka selama mengirim dan menerima paket dan aku menemukan satu blog tentang urutan-urutan pengiriman menurut pengalaman dia pribadi, aku baca dan sampai akhirnya aku bisa melihat ternyata memang kualitas JNE yang lebih baik. Mulai harga, jaminan sampai—karena ada paket YES dan juga ada paket hemat yang bisa digunakan untuk yang mengirim barang jauh dalam jumlah banyak. JNE is the best, rupanya!

Dan dari pengalaman pribadiku, setalah belanja online sering sekali. Memang JNE lah yang paling sering dipakai dengan alasan jaminan barang sampai tujuannya ada, terlebih lagi memang tepat waktu. Kurirnya juga—sejauh ini, tidak ke kosan melebihi jam enam sore, itu sangat kuhargai karena bisa melihat jam untuk menerima paket. Hehe. Sekarang pun aku baru saja mengecek nomor resiku di situs JNE, sungguh nyaman bukan? Kita sendiri dapat memastikan kiriman kita benar-benar sudah diproses atau belum dari web JNE itu sendiri.

Anyways, good luck JNE! Dan selamat ulang tahun, semoga makin jaya dan dipercayai oleh masyarakat Indonesia dalam mengirim paket.

Nyontek adalah Budaya, Benarkah?

Nyontek adalah Budaya, Benarkah?

Oleh: Dyni Mela Zingiberni

 

Sebenarnya menyontek adalah suatu hal yang mungkin sudah sangat sering atau setidaknya pasti pernah dilakukan oleh orang-orang yang sempat menginjak bangku sekolah dan mengikuti paling tidak satu ujian saja. Dan sudah sangat tidak awam lagi di telinga kita kata ‘nyontek’ atau bahkan pada era globalisasi ini sering juga diperindah dengan kata ‘cheating’ walau sebenarnya adalah bahasa asing dari kata menyontek itu sendiri. Mendengarnya mungkin orang bisa langsung berpikiran negatif mengenai kegiatan yang satu ini, tentu saja—menyontek merupakan kegiatan kecil yang dilakukan saat tidak bisa melakukan apa-apa lagi terhadap suatu masalah yang berujung dengan melihat atau bisa jadi mencuri ide/pikiran orang lain, bisa dibilang menyontek adalah contoh sederhana dari kejahatan besar seperti menjimplak karya orang yang berarti mencuri. Well, mungkin tidak sekejam itu namun pada kenyataannya kegiatan yang sering dikaitkan dengan ujian atau pelajar ini memiliki arti yang sama dengan semacam penjimplakan. Biasanya dari para pelaku yang pernah menyontek saat ujian mengaku ia tidak bisa menjawab soal sehingga berakhir dengan melirik jawaban teman—baik diketahui bahkan yang tidak diketahui sama sekali.

Nah, kenapa saya tiba-tiba tertarik dengan topik menyontek ini? Bukankah menyontek ini sudah kegiatan yang sangat wajar di kalangan pelajar? Terlebih lagi saya masih berstatus mahasiswa dan tidak dipungkiri pernah melakukan yang namanya ‘nyontek’. Berawal dari saya membuka situs VOA, saya yang memang pada dasarnya sangat hobi searching untuk sekedar me-refresh otak dari pelajaran kuliah yang sangat memusingkan menemukan sebuah artikel dari situs VOA yang membuat saya tertarik. Saya memang suka sekali membaca pada bagian pendidikan, dan pada saat itu terlihatlah sebuah judul menakjubkan bagi saya. “Universitas Harvard Diguncang Skandal Nyontek” adalah judul yang saya maksud, siapa juga yang tidak tertarik jika menyangkut dengan Universitas hebat dan terkenal ini? Apalagi setelah adanya situs sosial media yang berawal dan ditemukan oleh salah seorang mahasiswa dari Universitas Harvard, Facebook oleh Mark Zuckerberg.

Timbul sebuah pemikiran di dalam benak saya, menyontek merupakan skandal bagi Universitas hebat tersebut dan menyontek merupakan kegiatan yang sangatlah dilarang jika kita membaca artikel seperti itu sementara sebelumnya mungkin diri kita sendiri—termasuk saya—pernah menyontek barang sekali saja. Mengapa menyontek begitu menjadi sorotan di Universitas Harvard? Apakah menyontek juga menjadi skandal bagi sebuah sekolah biasa yang terletak di ujung daerah Indonesia? Kebiasaan masyarakat Indonesia sering kali menyebut bahwa nyontek sudah seperti budaya, dimana sudah mendarah daging dan tidak bisa dihilangkan, sehingga ketika seorang pelajar berhadapan dengan sebuah ujian pelajaran susah yang tidak ia sukai maka ia akan dengan gampang memilih menyontek sebagai jalan keluar pertama. Di sinilah letak pemikiran saya, apa benar nyontek itu merupakan budaya?

Pengalaman saya pribadi sebagai seorang siswa semasa SMA juga membuat mata saya dan pemikiran saya lebih terbuka, ingat saja pada masa-masa Ujian Nasional. Siswa-siswi hampir gila dibuatnya, gelisah akan tidak lulus dan menyebabkan bahkan ada sebagian dari teman saya menjadi takut jika mengingat UN dan apa jadinya? Ujung-ujungnya nyontek menjadi pilihan, beberapa pelajar cemerlang bahkan ditunjuk untuk menjadi semacam guru kunci untuk menyebar jawaban. Dengan demikian siswa yang berpemikiran ia tidak bisa lulus UN akan menjadi lebih tenang dan rileks dengan iming-iming tersebut, pertanyaan selanjutnya timbul. Apakah nyontek bisa disebut penyelamat yang jitu saat ujian? Hmm, ini sulit. Mengingat resiko ketahuan sangatlah besar, dan dalam kasus UN yang saya ceritakan itu maka mungkin bisa dilihat betapa percayanya siswa tadi dengan teman yang ia tunjuk sebagai penolong. Nah, mungkin saja ia bisa sedikit lega namun tanpa ia sadari ia sendiri menjadi malas untuk belajar karena sudah menganggap ada orang yang bisa men-cover nilainya.

Sejatinya menyontek adalah dilarang, sering sekali kalimat seperti: “Kerjakan masing-masing.”, “Jangan lirik kanan-kiri.”, “Kerjakan sesuai kemampuan saja.” Dan bahkan yang secara gamblang melarang dengan tegas untuk tidak menyontek saat akan melakukan suatu ujian atau tes. Dan mengapa menyontek mash dan terus saja dilakukan? Apakah iya menyontek sudah seperti budaya? Dalam kasus lain juga ada yang sengaja membuat catatan kecil untuk penolong saat ujian.

Menyontek jelas saja bukan budaya, menyontek hanyalah kebiasaan yang sebenarnya mudah untuk ditinggalkan jika saja dari diri kita masing-masing ditanamkan prinsip yang kuat untuk tidak berlaku curang. Nah, jika diri kita sudah tidak memiliki rasa percaya akan diri sendiri maka menyontek bisa menjadi suatu kebiasaan yang lumrah seolah-olah menjadi budaya.

Di sinilah kepercayaan diri kita diperlukan, terkadang pemikiran yang terlalu takut dalam ujian membuat gelisah tidak menentu sehingga menyontek menjadi ide pertama yang muncul. Tak jarang, saat ujian itu berlangsung seorang siswa yang sebenarnya sudah sangat paham dengan materi ujian namun tidak yakin dengan dirinya maka disanalah menyontek menjadi godaan yang teramat sangat susah untuk dilawan. Sehingga pada dasarnya diri pribadilah yang mengajarkan menyontek sebagai budaya, oleh karena itu perlu diadakan sedikit perubahan pola pikir dari pribadi masing-masing. Cobalah untuk lebih berusaha dan selalu positive thinking dengan diri sendiri, buatlah kepercayaan diri ada, persiapkan dengan matang dan hilangkan paradigma berpikir yang pendek mengenai cara gampang berhasil ujian tanpa belajar.

Artikel yang dipostingkan pada tanggal 13 Oktober 2012 tersebut membuat mata hati saya sedikit terbuka, sudah saatnya kita menghentikan kegiatan tersebut, setidaknya berusahalah untuk meninggalkannya. Karena jika saya boleh menyimpulkan selama ini banyak sekali mitos mengenai enaknya nyontek yang sangat berbanding terbalik dengan logika setelah saya pikirkan lagi. Beranggapan dengan menyontek nilai kita akan menjadi lebih baik sangat merusak percaya diri kita sendiri, membuat pribadi yang ketergantungan dan tidak bisa mandiri sehingga bisa membuat kita tanpa sadar kehilangan kreatifitas kita.

Nah, jika dalam diri kita masing-masing sudah tertanam pemikiran yang seperti itu maka menurut saya menyontek bisa sedikit berkurang dan perlahan-lahan bukanlah menjadi hal yang biasa lagi untuk dilakukan. Dengan demikian, nyontek bukanlah budaya lagi bukan?

 ***

link:

http://www.voaindonesia.com/

http://www.voaindonesia.com/content/universitas-harvard-diguncang-skandal-nyontek/1526023.html

Mandiri Itu…

Inovasi Indonesia Mandiri, wah jika didengar lagi sangat berat ya? Apalagi jika didengar dari telinga seorang mahasiswa seperti saya ini, terlebih jika menambahkan kata ‘mandiri’ bersama negri tercinta Indonesia. Namun, bagaimanapun mandiri adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh setiap individu.

Nah, bagaimana ceritanya jika Indonesia yang dituntut mandiri? Bukan sebuah tututan sebenarnya, lebih menuju ke keharusan. Sebagai warga negara yang baik pun saya sangat menginginkan Indoensia bisa mandiri, tidak terlalu tergantung dengan negara lain walau ya, sebenarnya susah juga sih jika harus diubah pola tersebut. Sebagai mahasiswa yang termasuk memiliki sifat konsumerisme saja, saya sendiri, mengaku sering sekali bercengkrama bersama teman-teman sekampus maupun satu kosan mengenai belanja alias shopping, terlebih lagi jika sudah disangkut pautkan dengan merek dagang. Entah kenapa, kebanyakan dari kami lebih menyukai produk luar negri dan itu bukan merupakan rahasia besar lagi. Hmm, tidak cinta Indonesia? Eits… jangan langsung di-judge sembarangan dulu.

Menurutku sifat seperti itu timbul karena kebiasaan masyarakat kita sendiri yang suka enggan dan malas memakai produk buatan negri sendiri. Dulu saja, jujur saya juga beranggapan seperti itu. Kalimat seperti “Eh, kamu make sepatu merek mana?”

Dan semenjak itulah dan karena itu jugalah banyak yang beralasan lebih memilih produk luar negri meskipun belum tentu kualitasnya lebih baik.

Well, itu hanya sedikit penggambaran mengenai kurang mandirinya Indonesia karena tergantung produk luar negri dari sisi belanja yang saya sampel sendiri berdasarkan pengalaman.

Jika diteliti lebih jeli, Indonesia mempunyai pontensi yang cukup besar untuk mandiri. Dan sebenarnya kemandirian itu sendiri harus sudah ada dari masyarakat Indonesianya masing-masing, bagamana diri kita bisa menyongsong hari dengan rasa madiri yang sudah mendarah daging, karena sebenarnya Indonesia memiliki SDA dan SDM yang sangat memadai. Pengalaman pribadi akan kembali sedikit saya ceritakan, beberapa waktu yang lalu saya dan sahabat ingin sekali membeli sepatu baru dan karena kesibukan kuliah yang seabrek kami memutuskan untuk belanja online saja. Awalnya berniat ingin mencari merek yang sudah terkenal di pasaran, dan setelah melihat haraga maka kami mengurungkan niat. Dasar mahasiswa, memang susah mengeluarkan uang sedikit saja.

Nah, kebetulan ada sebuah iklan dari sebuah online shop yang memberikan kata kunci “Handmade” di dalam judul iklannya. Wah… saya langsung tertarik sih, jujur saja harga yang ditawarkan pun sangatlah terjangkau untuk kantung mahasiswa pas-pasan seperti saya ini.😀

Setelah dilirik-lirik ternyata penawarannya cukup menarik, kita bisa melihat foto-foto dari pembuatan sepatu kita sendiri dan bisa memesan sesuai keinginan dan yang lebih mengejutkanya itu adalah buatan tangan loh, saudara-saudara. Dengan merek dagang sendiri, toko online sepatu tersebut mampu menyelesaikan sepatu dalam jumpah puluhan satu bulannya. Salut, kan? Saya semakin tertarik setelah melakukan kegiatan “SMS” dengan pemiliknya, dan ada kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan saat itu. Owner-nya tersebut berkata: “Ayo, sist. Kapan lagi membeli hasl dari produk sendiri, selain handmade, ini juga asli buatan Indonesia loh~ kami juga menjual dengan bahan batik…”

Wow… saya jadi sangat kagum. Batik? Digunakan sebagai bahan dalam membuat sepatu wegdes dengan model modern, betul-betul ide yang sangat kreatif dan jelas saja, saya tertarik dan berniat membelinya! Lagipula tidak ada salahnya mencoba, bukan? Awalnya saya beli satu pasang, hanya sekedar mengecek kualitas yang ditawarkan. Sngkat cerita, hehe, tiga minggu setelahnya saya menerima sepatu cantik dengan design yang menarik. Bungkusannya rapi dan hebatnya jahitannya juga rapi saudara-saudara! Sungguh potensi yang sangat hebat, hampir setara dengan banyak sepatu bermerek yang saya punya yang tentunya saya beli dengan harga hampir tiga kali lipatnya.

Loh loh loh, kenapa kesannya malah saya jadi curhat? Oke, sebenarnya apa yang mau saya sampaikan di sini adalah SDM kita sangat menakjubkan, contohnya saja toko sepatu yang saya sebutkan itu. Selama ini kita selalu enggan membeli produk buatan kita sendiri padahal nyatanya kita bisa mendapatkan produk yang juga berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Membantu perekonomian negara juga, bukan? Dan pastinya menambah lapangan kerja juga, dan kepuasa konsumen pelit semacam saya ini.😄

Nah, dimana segi madirinya nih?

Bertanya hal itu?

Tentu saja mandirinya kita lihat dari bagaimana kita bisa berusaha sendiri tanpa tergantung dengan orang lain, dan kalau boleh bongkar sedikit, pemilik toko itu juga mahasiswa seperti saya loh~ dia sudah membuka usaha toko sepatu sendiri dalam usia muda, hebat bukan? Saya jadi ikutan tertarik untuk mencoba, sekaligus menambah uang jajan juga agar tidak menyusahkan orang tua sebenarnya.

Bayangkan jika saja sebagian besar dari remaja dan masyarakat Indonesia mempunyai pemikiran seperti itu, maka tentu bisa dibayangkan betapa lebih mandirinya kita dalam berkarya. Saya juga sih sudah mulai buka usaha online shop kecilkecilan juga, dan lumayan… sekarang bisa nambah jajan dan meringankan beban orang tua sekalian menambah pengalaman untuk kedepannya.🙂

Jika mau lirik, silahkan saja intip intip di Facebook

Salah satu paketan yang siap saya kirim😀

Jadi, menurut saya pribadi bagaimana kunci dari Indonesia mandiri? Inovasi Indonesia mandiri? Semuaya tergantung pada diri masing-masing masyarakatnya, jika masyarakatnya sudah mandiri maka dengan gampangnya Indonesia, negri kita tercinta, mandiri dalam berinovasi.😀

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.bankmandiri.co.id dalam rangka memperingati HUT Bank Mandiri ke-14. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.